Hubungan Senior-Junior yang Baik

Sobat, apakah kita pernah berfikir akibat adanya status senior atau junior?.. salah satu Kesan yang ditimbulkan adalah PERBEDAAN KELAS. Khawatir yang senior merasa paling berkuasa dan yang junior kebagian jadi objek penderita. Padahal di hadapan Allah, semua punya kedudukan sama. Yang membedakan hanya ketakwaan dan keilmuan masing-masing aja. Nggak diliat siapa yang duluan sekolah, yang duluan ikut ngaji, atau yang duluan aktif dakwah. Meski boleh jadi yang duluan, kaya akan pengalaman dan ilmu. TAPI tetep, nggak membenarkan adanya diskriminasi terhadap yang lebih muda. KARENA ITU…, bagaimana kalau kita pake sebutan senior-junior itu semata-mata untuk ngebedain siapa yang masuk sekolah duluan. Nggak boleh ada “maksud lain”. Setuju ga??

Untuk hubungan antara yang senior dan junior sendiri, RASUL udah ngingetin kita dalam sabdanya: “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak muda dan tidak mengetahui hak (dalam riwayat yang lain: tidak menghormati) orang-orang dewasa, maka ia bukanlah golongan kami.” (HR Abu Dawud)

Kita bisa meneladani keseharian Rasul ketika berhadapan dengan yang tua atau saat membimbing yang lebih muda. Beliau sangat menghormati sahabatnya yang lebih tua dan memerintahkan umatnya agar menempatkan para SENIOR lebih dahulu dibanding YUNIOR. Sabda beliau, “Sesungguhnya termasuk dalam mengagungkan Allah adalah memuliakan orang-orang tua…” (HR Abu Dawud).

TAPI bukan berarti membenarkan yang lebih tua untuk MENYOMBONGKAN DIRI dan membangga-banggakan keseniorannya. Nggak ada alasan yang membolehkan kita bersikap ANGKUH bin tinggi hati. Allah Swt. berfirman:

فَلاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ
أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (di antaramu). (QS an-Najm [53]: 32)

Beliau pun tak memandang sebelah mata kepada yang lebih muda. Sebagaimana perkataan sahabat abu Said al-Khudhriy r.a.: “Ketika masa Nabi saw. aku masih remaja, dan aku banyak menghafal perkataan beliau saw., tidak ada yang menghalangiku untuk banyak menceritakan hadits beliau saw. ketika itu kecuali karena pada saat itu masih banyak para sahabat yang lebih senior dari aku.” Bahkan Usamah bin Zaid yang baru berusia 17 tahun pernah ditunjuk untuk memimpin para shahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar sebagai komandan pasukan kaum Muslim menghadapi pasukan Romawi.

Nah sobat, sungguh indah kan kalo hubungan antara senior dan junior dilandasi PERSAUDARAAN dan KASIH SAYANG seperti dicontohkan RASULULLAH SAW.? Nggak ada rasa ingin menjatuhkan atau meremehkan satu sama lain. APALAGI sampai melahirkan FANATISME terhadap angkatannya. Nggak banget dah!

JADI, Sekadar catatan untuk para senior, kalo pengen dihargai dan dihormati oleh junior, ada baiknya kita pun kudu mau menghormati dan menghargai mereka. Rasa hormat itu lebih NGEJOSS kalo lahir dari perasaan hati yang IKHLAS, bukan hasil dari tekanan mental atau sok kuasa kita kepada junior. Bikin deh junior jadi PEDE dan NYAMAN jika berteman dengan senior. Tetap BARWIBAWA di hadapan junior saat membina mereka, tapi jangan pasang muka JUTEK or SOMBONG yang malah akan merendahkan wibawa seorang senior. SO, untuk semua sahabatqu yang ada disana… Mulailah:
Kita WAJIB menyontohkan dan membimbing junior dengan metode pembinaan kekeluargaan. Ga usah bingung, selayaknya keluarga saja… keluarga itu LEMAH LEMBUT tapi TIDAK LONGGAR. KETAT dan TEGAS tapi TIDAK MEMBUAT STRESS. DISIPLIN tapi tetap ENJOY bagi yang diajarin. Eh, yang pasti kita HARUS kasih gambaran bagaimana Islam mengatur perilaku kita agar lebih mulia sebagai manusia. Mari, kita jadikan pembinaan ini sebagai sarana untuk merajut UKHUWAH dan meraih BERKAH. Bukan menambah masalah dan mencari-cari kesalahan. Yup!

nbfhu-nrurj-kjnlp-friendship.jpg

inilah hubungan senior-junior yang sesungguhnya: FRIENDSHIP…

Satu Tanggapan ke “Hubungan Senior-Junior yang Baik”

  1. Ian Berkata:

    Setuju

Tinggalkan Balasan